Panglima Militer Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menyatakan kesiapan mereka menghadapi jika terjadi perang. Amir bahkan menyebut kesiapan mereka sudah matang, belajar dari perang dengan Israel pada 2025 lalu.
“Pengalaman yang unik dan khusus bagi angkatan bersenjata Iran”, kata Amir dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim dilansir Al Jazeera, Rabu (14/1).
Menurutnya, tidak ada negara lain yang pernah berhadapan dengan Israel yang ia sebut sebagai “rezim yang dipersenjatai teknologi serta dukungan Barat”.
Israel diketahui menghancurkan pusat-pusat permukiman di Iran. Mereka kemudian membalas serangan itu dan merusak sejumlah lokasi di wilayah Israel. Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap tiga lokasi militer di Iran.
Hatami menegaskan, “Persiapan yang dilakukan selama enam bulan terakhir setelah perang 12 hari yang dipaksakan itu sepenuhnya memadai” untuk menghadapi ancaman yang dilontarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan saat ini ia tengah mempertimbangkan opsi “sangat keras” untuk menghukum Iran atas apa yang ia sebut sebagai tindakan represif brutal terhadap para demonstran.
Selain itu Puluhan ribu pendukung pemerintah Iran menggelar aksi unjuk rasa besar di Teheran, Senin (12/1). Mereka menggelar demo saat pemerintah berupaya meredam gelombang protes nasional yang telah berlangsung hampir dua pekan dan disebut sebagai yang terbesar sejak 2009.
Televisi pemerintah Iran menayangkan massa yang memadati jalan-jalan ibu kota sebelum berkumpul di Lapangan Enqelab dalam aksi bertajuk “kebangkitan Iran melawan terorisme Amerika-Zionis”. Dalam aksi itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pidato keras menentang campur tangan Barat.
Dalam laporan The Guardian, Ghalibaf menyatakan Iran saat ini tengah menghadapi “perang di empat front”, yakni perang ekonomi, perang psikologis, perang militer melawan Amerika Serikat dan Israel, serta apa yang ia sebut sebagai perang melawan terorisme.
Dikelilingi slogan “Matilah Israel” dan “Matilah Amerika”, Ghalibaf bahkan mengancam akan membalas jika Iran diserang. Ia menegaskan militer Iran siap memberi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump “pelajaran yang tak akan pernah dilupakan”.
Tak lama setelah itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ikut angkat suara. Ia menyebut aksi pro-pemerintah tersebut sebagai peringatan langsung kepada AS, menyusul ancaman Trump yang berulang kali menyatakan siap melakukan intervensi militer jika pemerintah Iran membunuh para demonstran.

“Ini adalah peringatan bagi para politikus AS untuk menghentikan tipu daya mereka dan tidak bergantung pada tentara bayaran yang berkhianat,” kata Khamenei, dalam siaran media pemerintah Iran yang dikutip AFP.
