Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez untuk segera mengambil alih dan menjalankan jabatan penjabat presiden.
Hal ini terjadi setelah AS menangkap Presiden Nicolas Maduro dan membawanya ke New York.
Dikutip dari Anadolu, Minggu (4/1), pengadilan memerintahkan Rodriguez untuk menjadi presiden “dengan kepatuhan yang ketat terhadap Konstitusi dan hukum Venezuela.”
Tania D’Amelio, ketua Dewan Konstitusi, mengatakan bahwa keputusan tersebut dikeluarkan untuk menjamin keberlangsungan administrasi negara dan pertahanan negara.
Pengadilan mengatakan bahwa Maduro tak mungkin untuk menjalankan tugasnya.
Pada hari Sabtu (3/1), pemerintah Venezuela menuduh AS menyerang instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian dan menyatakan darurat nasional.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengkonfirmasi serangan “berskala besar” tersebut, dan menambahkan bahwa Presiden Nicolas Maduro dan istrinya telah “ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri.”
Serangan-serangan itu terjadi setelah berbulan-bulan meningkatnya tekanan AS terhadap Maduro, yang dituduh Washington terlibat dalam perdagangan narkoba. Pemimpin Venezuela telah membantah klaim tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk melakukan pembicaraan.Sementara itu Delcy Rodriguez menegaskan Nicolas Maduro merupakan satu-satunya Presiden Venezuela.
“Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros,” ujar Rodríguez pada Sabtu (3/1), dikutip dari The Hill.
Pernyataan tersebut disampaikannya di tengah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Rodriguez sebagai presiden baru Venezuela.
Namun, sikap Rodríguez justru menegaskan dukungan penuh terhadap Maduro dan sekaligus membantah pernyataan Trump.
