Nilai tukar rupiah melemah tajam hingga menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang muncul secara bersamaan, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global dan meningkatnya inflasi, sehingga investor berbondong-bondong beralih ke aset yang dinilai lebih aman seperti dollar AS. Kondisi ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah semakin terasa karena sentimen terhadap aset domestik yang dinilai mulai rapuh. Hal itu terjadi setelah adanya penurunan outlook rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat serta meningkatnya arus keluar modal dari pasar keuangan domestik.
Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menilai pelemahan rupiah saat ini terutama dipicu oleh faktor eksternal yang berasal dari konflik geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok energi global.
“Kalau saya lihat sih ini memang murni dari tekanan global, terutama dampak perang yang luas. Lalu diikuti dengan kekhawatiran adanya gangguan supply atau supply chain shock,” ujar Myrdal kepada kumparan, Senin (9/3).
Menurut dia, pasar khawatir terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia. Kekhawatiran tersebut mendorong lonjakan harga minyak hingga menembus lebih dari USD 113 per barel.
“Jadi ada kekhawatiran yang namanya supply chain shock untuk komoditas minyak. Sehingga kita lihat ya harga minyak saat ini sudah menembus lebih dari USD 113 per barrel,” katanya.
Lonjakan harga energi tersebut membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang. Dampaknya terlihat pada koreksi yang terjadi di pasar saham maupun pasar surat utang negara (SUN) domestik.
Myrdal memperkirakan arus keluar dana asing di pasar saham pada hari ini mencapai lebih dari USD 50 juta per hari. Sementara di pasar obligasi pemerintah, outflow diperkirakan menembus lebih dari Rp 500 miliar.
“Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat rupiah terbang ya pada hari ini ya melemah terhadap dolar,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia dinilai perlu memperkuat langkah stabilisasi di pasar keuangan untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Menurut Myrdal, bank sentral dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing maupun di pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Nah yang dilakukan oleh BI ya pasti mereka harus melakukan intervensi. Intervensi di pasar spot rupiah, intervensi di pasar forward ya baik itu di NDF atau NDF ya,” katanya.
Selain itu, Bank Indonesia juga dapat masuk ke pasar sekunder surat utang negara untuk meredam tekanan di pasar obligasi.
Ia menilai ruang kebijakan moneter masih cukup memadai karena cadangan devisa Indonesia tergolong besar.
“Ini kalau kita lihat sih dari BI juga amunisi moneternya masih mumpuni ya karena sedangkan devisa kita juga hingga periode Februari lalu masih sekitar USD 151,9 miliar,” ujar Myrdal.
Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga dapat memperkuat instrumen stabilisasi likuiditas seperti melalui peningkatan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menyerap likuiditas di pasar.
Di sisi kebijakan suku bunga, Myrdal menilai bank sentral sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini dan tidak terburu-buru menaikkannya.
“Terus ya jalan terakhir mereka harus tetap ini menjaga suku bunga BI Rate di level saat ini ya kalau untuk menaikkan suku bunga sih jangan dulu lah kalau dari saya sih,” katanya.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuabi menilai tekanan terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi sentimen geopolitik yang semakin memanas.
Dia menyoroti perkembangan politik di Iran yang dinilai berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah.
“Apa yang menyebabkan rupiah dan indeks harga saham gabungan melemah cukup tajam dalam perdagangan di hari Senin ini? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi adalah faktor eksternal dan internal yang kita lihat bahwa pemimpin baru Iran sudah terpilih,” ujar Ibrahim.
Ketegangan geopolitik tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz terdampak.
“Ini yang membuat apa? Membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun brent, ini pun juga melonjak tinggi,” katanya.
Ibrahim bahkan memperkirakan harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak lebih tinggi jika konflik tidak segera mereda.
“Nah banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level USD 200 per barrel apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak tersebut dikhawatirkan akan menekan kondisi fiskal dalam negeri, terutama jika berlangsung dalam waktu lama. Pemerintah pun dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
