Militer Amerika Serikat (AS) melakukan serangan terhadap Venezuela. Pejabat AS telah mengkonfirmasi hal tersebut kepada siaran Fox News Saturday, pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat.
Menurut laporan AP, setidaknya tujuh ledakan terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas. Pesawat tempur AS juga terlihat terbang rendah sejak pukul 02.00 dini hari.
Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menerbitkan Notice to Air Missions (NOTAM) pada Sabtu pukul 01.00 waktu AS bagian timur (EST), melarang seluruh pesawat AS beroperasi di semua ketinggian dalam wilayah udara Venezuela.
Militer AS menyerang berbagai lokasi di ibu kota Caracas serta negara bagian lainnya, yang memicu kecaman keras pemerintah Venezuela dan dinamika geopolitik internasional. Operasi Militer tersebut berujung dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya oleh pasukan elite AS.
Dalam serangan tersebut Sedikitnya ada 40 orang warga sipil dan anggota militer dilaporkan tewas. Informasi tersebut dilaporkan The New York Times, mengutip keterangan seorang pejabat Venezuela, seperti yang diberitakan Al-Jazeera.
Presiden AS Donald Trump mengklaim pasukan elite AS Delta Force berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai keberhasilan besar AS dalam menegakkan hukum.

“Presiden Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu,” tulis Trump melalui media sosial Truth Social, dikutip dari CNN, Sabtu (3/1).
Mereka lalu dibawa ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima, untuk dibawa ke New York untuk diadili atas sejumlah dakwaan.
