Ayatollah Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai suksesor ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang wafat karena serangan gabungan Israel-Amerika Serikat. Mojtaba ditunjuk oleh para ulama Iran pada Minggu (8/3) waktu setempat.
“Diangkat dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan suara yang menentukan dari perwakilan terhormat Majelis Pakar,” kata badan ulama tersebut dalam sebuah pernyataan dikutip dari AFP.
Dikatakan bahwa badan ulama tersebut tidak ragu sedetik pun dalam memilih pemimpin baru, meskipun ada agresi brutal dari Amerika dan Israel.
Kabar soal terpilihnya Mojtaba ini juga diberitakan banyak media-media Iran. Seperti Tehran Times, Press TV, hingga Fart yang merupakan kantor berita Iran.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Tehran Times, Majelis Pakar, dengan suara mayoritas yang sangat besar, memperkenalkan Ayatollah Haj Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran.
Pemimpin Republik Islam Iran sebelumnya adalah Ayatollah Ruhollah Khomeini (1979–1989) dan Ayatollah Ali Khamenei (1989–2026).
Masyarakat di Teheran menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada Senin (9/3).
Sejumlah warga mengaku merasa yakin bahwa arah kepemimpinan Iran akan tetap berlanjut di bawah Mojtaba. “Sekarang kami yakin bahwa jalan ini akan berlanjut di bawah kepemimpinannya,” ujar seorang warga Teheran.
Penunjukan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional, setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang baru berlangsung sekitar satu pekan.
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh besar di kalangan pasukan keamanan Iran serta jaringan bisnis yang berkembang di bawah kepemimpinan ayahnya.
Badan yang terdiri dari 88 ulama memiliki kewenangan untuk memilih pengganti Pemimpin Tertinggi Iran. Dengan hasil pemungutan suara dari badan tersebut, Mojtaba resmi melanjutkan kepemimpinan yang sebelumnya dipegang oleh Ali Khamenei.
